Countdown to Ramadhan: Bulan Sya’ban Telah Datang!

Tak terasa, ya, kita sudah berada di bulan Sya’ban sekarang ini, yang berarti tidak sampai tiga puluh hari lagi kita akan segera bertemu dengan bulan Ramadhan. Sepertinya belum lama, Ramadhan meninggalkan kita, sekarang ia sudah berada di depan mata lagi. Sudah siapkah teman-teman dengan kedatangannya ini?

Eeiits, tunggu dulu, jangan terburu-buru membuat jadwal buka bersama atau membuat list menu buka puasa, ya. Bukan hal yang salah sih merasa senang dengan datangnya bulan Ramadhan, namun jangan terlalu terlena dengan perasaan tersebut, perlu kita ingat kalau bulan Sya’ban juga merupakan bulan yang istimewa.

Mungkin ada teman-teman yang bertanya, apa sih istimewanya bulan Sya’ban. Dalam sebuah hadist hasan disebutkan bahwa pada bulan tersebutlah amal manusia diangkat ke sisi Allah SWT,

“Inilah bulan yang di dalamnya amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam”

(HR. An-Nasa’i dan Ahmad; Hasan)

 

Wah, kalau terdapat momen yang sebegitu pentingnya di bulan Sya’ban ini, lalu…apakah ada sesuatu hal yang harus kita lakukan? Bukan suatu keharusan sebenarnya dan tiidak ada dasar yang menjelaskan bahwa amalan yang satu ini bersifat wajib, namun Rasulullah mencontohkan untuk melakukan puasa pada bulan Sya’ban. Bahkan disebutkan bahwa tidak ada bulan lain dimana Rasulullah berpuasa sebanyak beliau berpuasa di bulan ini.

“Aku (Usamah bin Zaid) berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di bulan Sya’ban.” Rasulullah menjawab, “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa.”“ (HR. An-Nasa’i; hasan)

‘Aisyah juga menyebutkan hal yang selaras mengenai puasa Rasulullah di bulan Sya’ban

Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Meskipun dalam hadist tersebut dinyatakan bahwa Rasulullah berpuasa selama sebulan penuh di bulan ini, namun sebenarnya tidak demikian. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari menyatakan bahwa istilah “berpuasa sebulan penuh” merupakan ungkapan yang sebenarnya memiliki maksud “berpuasa di sebagian besar hari di bulan tersebut”.

Yaaah, dibandingkan dengan mempersiapkan rencana buka bersama atau mendaftar menu buka puasa, mengikuti contoh Rasulullah dengan berpuasa di bulan ini terdengar lebih baik, kan? Selain mengikuti tuntunan beliau, puasa di bulan ini bisa digunakan sebagai latihan, atau membiasakan diri, sebelum bulan Ramadhan datang. Bagi yang belum terbiasa berpuasa, terkadang merasa kaget atau berat untuk memulai puasa, iya bukan? Karenanya lah memperbanyak puasa di bulan ini InsyaAllah akan membuat kita lebih bersemangat dan kuat saat berada di bulan Ramadhan nanti.

Selain itu, bulan Sya’ban juga merupakan bulan terakhir dimana kita, para muslimah, bisa membayar hutang puasa yang kita miliki di bulan Ramadhan sebelumnya. Mungkin ada dari teman-teman yang belum tuntas membayar hutang puasanya? Ayo, sebelum Ramadhan datang, kita lunasi dulu, yuk.

Sebenarnya tidak banyak sunah-sunah khusus di bulan Sya’ban yang Rasulullah contohkan, selain memperbanyak puasa. Namun di masyarakat kita, nampaknya banyak sekali hal-hal yang serasa tampak wajib dilakukan di bulan ini ya, misalnya ruwahan atau mengirim doa bagi kerabat yang telah meninggal dunia yang dilakukan di bulan Sya’ban, nyadran yang lekat dengan ziarah kubur, dan bahkan tradisi padusan di akhir bulan. Nah, kita harus selalu mengingat untuk hanya mengikuti ajaran nabi dan tidak membuat amalan yang tidak ada tuntunannya. Dan tiga kegiatan yang disebutkan tersebut tidak memiliki tuntunannya sama sekali.

Bukan hal yang salah sih, untuk mendoakan kerabat yang telah meninggal atau melakukan ziarah kubur, namun kedua hal ini bukan lah kegiatan spesial yang perlu dilakukan di bulan Sya’ban. Kita bisa saja kan memanjatkan doa tersebut setiap hari selepas melakukan sholat, dan kita juga bisa melakukan ziarah kubur kapan saja, tidak hanya, atau harus di bulan Sya’ban saja. Sementara untuk padusan, tanpa melakukan mandi besar di akhir bulan Sya’ban pun puasa akan tetap sah. Dan yang menjadi pertanyaan besar dari tradisi ini adalah kegiatannya biasanya dilakukan di tempat terbuka seperti kolam renang dan pantai dan tidak dipisahkan antara pria dan wanita yang justru bertentangan dengan ajaran agama kita.

Nah, karena sudah mengetahui istimewanya bulan Sya’ban, mari hidupkan bulan ini dengan memperbanyak puasa seperti yang Rasulullah ajarkan. Tetap lakukan ibadah lain seperti biasanya, perbanyak lagi amalan baik, dan menjauh dari aktivitas yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Barakallah~~

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *